Diduga Memperkerjakan Anak di Bawah Umur, Oknum Jaksa Jemput Paksa ART

Lampung Selatan, Mediapromoter.id –  Rusiyah (38) warga Dusun 1B Desa Purwodadi Dalam Kecamatan Tanjung Sari memohon keadilan kepada pemerintah atas kejadian yang menimpa anak gadisnya.

Diketahui dari keterangan Rusiyah, anak gadisnya yang bernama Herning Lira Ningsih (16)
dan juga temannya bernama Lia Aprilia (16) warga Kabupaten Tanggamus dijemput secara paksa oleh majikannya berinisial RR dirumah Rusiyah pada hari Rabu tanggal 5 Juli 2023 sekira pukul 15.30 Wib tanpa sepengetahuannya.

Herning Lira Ningsih alias Ning dan Lia Apriliani alias Lia merupakan Asisten Rumah Tangga (ART) yang berkerja di rumah RR warga Jalan Pulau Nias, Kelurahan Sukabumi Kecamatan Sukabumi Kota Bandar Lampung.

Begini kronologi kejadian penjemputan paksa Ningsih dan Lia yang dilakukan oleh RR.

“Anak saya sedang tidur dikamar paling belakang, semua pintu saya tutup dan kunci, cuma pintu depan saja yang nggak saya kunci. Saat itu saya sedang kerumah tetangga sebelah, nyuapin anak saya makan. Sekitar 10 menit, tetangga saya itu teriak-teriak manggil saya, bilang anak saya dibawa sama orang, dimasukin mobil, orang itu langsung jalan aja,” Ungkap Rusiyah Kepada Wartawan, Sabtu (8/7).

Selanjutnya, saya panik, saya langsung cari motor, saya kejar tapi nggak kekejar, terus saya kerumah pak kadus, kemudian lapor kepada pak kades. Kalau mobil yang bawa anak saya itu warnanya silver, kejadiannya sekitar jam setengah 4 sore.

“Anak saya bekerja sebagai ART dirumah bapak itu, sebelum dijemput paksa, anak saya pernah cerita, bahwa dia sering menerima perlakuan tidak baik oleh majikannya,” katanya.

Setelah itu, Rusiyah dan suaminya didampingi oleh Kepala Desa (Kades) Purwodadi Dalam, Ngadiran, S.Pd, Kepala Dusun (Kadus) 1B, Haryaif dan Babinsa Desa setempat mendatangi kediaman RR di Jalan Pulau Nias, Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Sukabumi Kota Bandar Lampung, sekira pukul 19.00 WIB, pada Rabu lalu (5/7).

“Malamnya kami bersama Pak Kades, Pak Kadus, dan Pak Babinsa, datang kerumah bapak tersebut, untuk melihat kondisi anak saya dan musyawarah agar anak saya bisa dibawa pulang kerumah, tapi tidak diizinkan, ” Ujar Rusiah.

Menurut Rusiyah dirinya pernah ketemu dengan anaknya, dan kondisi hanya sebentar melihat dari kejauhan itupun cuman 2 menit.

“Bahkan pada saat itu ketemu dengan anak saya pun cuman sebentar, hanya boleh liat dari jauh, itupun cuma dua menit, nggak boleh kami ajak ngobrol,” Ungkap Rusiyah sambil meneteskan air mata.

Saat itu, Rusiyah sempat bertanya kepada RR kenapa anaknya tidak diperbolehkan pulang.

“Kenapa enggak boleh pulang, kan saya jemputnya sama Pak Kades, sudah didampingi kenapa enggak boleh pulang,” Papar Rusiyah.

Waktu itu, kata RR,”Anak saya teledor dalam melakukan pekerjaan, kata dia anak saya merusak alat penghangat air, saya disuruh ganti yang baru, dengan membayar sebesar 6 juta, untuk ganti alat yang rusak 3 Jt dan bayar kreditan HP 3 Jt. Jangankan bayar 6 juta, buat makan saja susah, sehari hari pekerjaan suami saya hanya buruh digudang kopi,” Lanjut dia.

“Sampai detik ini saya belum bisa komunikasi dengan anak saya. Saya sudah dua kali mediasi, yang pertama didampingi oleh aparatur desa dan yang kedua bersama aparat kepolisian Polda Lampung, namun anak saya tetap tidak diperbolehkan pulang oleh RR, sehingga saya melaporkan kejadian tersebut,” Ungkapnya.

Rusiyah berharap agar pemerintah dapat membantu anaknya supaya bisa segera kembali pulang kerumahnya.

“Saya minta tolong kepada Pak Presiden, Pak Mentri, Pak Kapolri, Pak Kapolda dan kepada pemerintah Indonesia, tolong bantu saya, untuk melepaskan anak saya dari RR, agar bisa kumpul lagi sama saya,” Kata Rusiyah.

Lanjutnya, Karena kalau saya menempuh mediasi lagi, enggak mungkin saya diberi kesempatan ngomong, yang ada saya dibentak-bentak sama Bapak itu (RR.Red), katanya saya tidak ada hak untuk bertemu dengan anak saya. Karena menurutnya, dia yang kasih makan.

“Anak saya bisa dibawa pulang dengan membayar 6 jt, dikasih waktu 1 hari untuk menyiapkan uang tersebut kalau tidak anak saya akan dipenjarakan,” Kata dia.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Dusun (Kadus) 1B Desa Purwodadi Dalam, Haryaif, kepada wartawan dia menyampaikan, bahwa benar ada warganya yang dijemput paksa oleh majikannya tanpa seizin dari aparatur desa.

“Benar, Ibunya Ning lapor ke saya, bahwa anaknya dijemput paksa oleh majikannya. Hari itu juga kami laporan ke Pak Kades di Balai Desa untuk bermusyawarah, dan berencana akan kerumah RR,” Jelas Haryaif, Sabtu malam (8/6).

“Sekira jam 7 malam pada hari Rabu tanggal 5 Juli lalu kami bersama-sama berangkat kerumah RR. Ada Pak Kades, Pak Babin, Rusiyah dan suaminya,” Lanjut Kadus.

“Sampai dikediaman RR, kami bermusyawarah dengan dia, untuk membawa pulang anak itu,” Ungkapnya.

Ditanya wartawan apakah sempat bertemu dengan Ning dan Lia, Hariyaif mengatakan pihaknya dan juga Kepala Desa, serta orang tuanya hanya diperbolehkan melihat anak tersebut kurang lebih 2 menit saja.

” Iya sempat diperlihatkan ke kami, sekitar 2 menitan, itupun kami lihat dari jauh, kami tidak sempat komunikasi, karena tidak boleh, cuman diperlihatkan saja ke kami, lalu anak itu disuruh masuk kembali. Saat itu saya lihat kondisi kedua anak itu tertunduk, sambil menangis,” Jelasnya.

Karena mediasi tidak membuahkan hasil, akhrinya kami pulang untuk bermusyawarah kembali,” Tutup Hariyaif.

Informasi yang berhasil dihimpun awak media, di lapangan bahwa pada saat kajadian penjemputan paksa yang dilakukan oleh RR disaksikan oleh beberapa warga, bahkan salah satu warga sempat mempertanyakan dan melarang RR untuk membawa anak tersebut. Namun RR tidak mengindahkan, dan tetap membawa Ning dan Lia.

Diketahui, RR  diduga berprofesi sebagai jaksa di wilayah Lampung, sampai berita ini diterbitkan, kedua anak tersebut belum kembali kepada keluarganya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *